INTERPRETASI BATU PABEASAN DI CIBIRU WETAN KABUPATEN BANDUNG

Rusyanti - Rusyanti

Abstract


There were many Archaeological artifacts found in Indonesia. The remains are from prehistoric, classic and Islam periods. One of the classic artifacts is lumpang alu stone presented in many forms and often presumed as lingga-yoni. This paper aims to interpret the function and the meaning of Batu Pabeasan in Desa Cibiru Wetan Kabupaten Bandung and its correlation to lingga-yoni. Through archaeological survey and iconographical analysis and historical approach it is found that Batu Pabeasan did not show the details seen as a religious artifact (ideofact) as lingga-yoni but more opt to economic tools (technofact) presented through its name. This may be related to people who experienced agricultural activities, within the meanings of hopes and fertility.


Keywords


Lingga-yoni, lumpang batu, Bandung.

Full Text:

PDF

References


Atmodjo, Y. S. (1999). Vademekum Benda Cagar Budaya. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Sejarah Purbakala.

Boedi, O. B. (2004). Fungsi Menhir Pada Masa Islam di Jawa Bagian Barat. In Agus Aris Munandar (Ed.), Teknologi dan Religi dalam Perspektif Arkeologi (pp. 55--63). Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.

Falah, A. W., & Yondri, L. (1995). Tinjauan Tentang Peninggalan Tradisi Megalitik di Situs Pasir Lulumpang, Cimareme, Kabupaten Garut. Jurnal Balai Arkeologi Bandung, (No.1), 87--97.

Istari, T. M. R. (2003). Arti Simbolis Pahatan Naga di Bawah Cerat Yoni di Singasari. Berkala Arkeologi Tahun XIII, (No.1), 53--62.

Kalsum. (2010). Kearifan Lokal dalam Wawacan Sulanjana: Tradisi Menghormati Padi pada Masyarakat Jawa Barat di Indonesia. Jurnal Sosiohumanika, 3(1), 79--94. Retrieved from http://www.mindamas-journals.com/index.php/sosiohumanika/article/view/405

Koentjaraningrat. (1990). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Latifundia, E. (2013). Pengaruh Budaya Pra-Islam pada Makam di Desa Salakaria, Kecamatan Sukadana, Ciamis. Purbawidya Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Arkeologi, 2(1), 12--24.

Maulana, R. (2000). Ikonografi Hindu. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Montana, S. (1996). Perbedaan dalam Cara Penyebaran Agama Islam di Jawa pada Abad ke-15--17 (Kajian Historiografi Lokal dan Asimilasi Tinggalan Arkeologi). Forum Arkeologi, 2.

Nastiti, T. S. (1996). Prasasti Kawali. Jurnal Penelitian Balai Arkeologi Bandung, (4), 19--37.

Rusyanti. (2011). Lingga Yoni di Kompleks Keraton Cirebon. In A. Akbar (Ed.), Arkeologi: Peran dan Manfaat Bagi Kemanusiaan (pp. 167--177). Bandung: Balai Arkeologi Bandung.

Saptono, N. (2006). Situs Astana Gede Kawali dalam Konteks Perubahan Budaya. In Dimensi Arkeologi Kawasan Ciamis (pp. 81--93). Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komda Jabar-Banten.

Saringendyanti, E. (1998). Menhir Bentuk Phallus di Jawa Barat sebagai Wujud dan Fungsi dari Dinamika Budaya Nusantara. In T. Djubiantono (Ed.), Dinamika Budaya Asia Tenggara-Pasifik Dalam Perjalanan Sejarah (pp. 113--118). Jakarta: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komda Jabar-Banten.

Simanjuntak, T. (Ed.). (2008). Metode Penelitian Arkeologi. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Badan Pengembangan Sumberdaya Kebudayaan dan Pariwisata, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

Sudarti. (2001). Sumberdaya Alam Situs Gunung Lumpang, Kabupaten Cirebon sebagai Pendukung Budaya Megalitik. In Manusia dan Lingkungan: Keberagaman Budaya dalam Kajian Arkeologi (pp. 13--25). Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komda Jabar-Banten.

Sudarti. (2008). Lingkungan dan Topografi Lahan Kaitannya dengan Penempatan Situs-situs Arkeologi Masa Tradisi Megalitik dan Islam Kawasan Cibeber. In Arkeologi Penelitian dan Pemanfaatan Sumberdaya Budaya (pp. 73--88). Jakarta: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komda Jabar-Banten.

Sukendar, H. (1980). Tinjauan Tentang Tinggalan Megalitik di Daerah Sulawesi Tengah. In Pertemuan Ilmiah Arkeologi III (pp. 61--82). Jakarta: Proyek Penelitian dan Peninggalan Purbakala, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sukendar, H. (1983). Peranan Menhir dalam Masyarakat Prasejarah di Indonesia. In Makalah dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi ke III (pp. 92--108). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Taniardi, P. N. (2010). Mengurai Makna di Balik Lingga dan Yoni. Kebudayaan, 5(1), 50--57.

Wardha I Wayan. (1985). Lingga (Suatu Kajian Simbol) (II). Jakarta.

Widyastuti, E. (n.d.-a). Laporan Hasil Penelitian Arkeologi Ikonografi Masa Hindu Budha di Kabupaten Ciamis dan Tasikmalaya, Jawa Barat. Bandung.

Widyastuti, E. (n.d.-b). Variasi Bentuk Lingga Yoni dalam Kaitannya dengan Perkembangan Religi. In S. Rahardjo (Ed.), Religi dalam Dinamika Masyarakat (pp. 60--71). Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komda Jabar-Banten.

Widyastuti, E. (2012). Bangunan Suci di Situs Indihiang, Tasikmalaya, Jawa Barat. In Heriyanti Untoro (Ed.), Arkeologi Ruang: Lintas Waktu Sejak Prasejarah Hingga Kolonial di Situs-situs Jawa Barat dan Lampung (pp. 31--42). Bandung: Alqa: Print.

Widyastuti, E. (2017). Arsitektur Bangunan Suci di Situs Indihiang Kota Tasikmalaya. Purbawidya Jurnal Pengembangan Dan Penelitian Arkeologi, 6(1), 19--31.

Wiradnyana, K. (2011). Lesung Batu Cerminan Pandangan Hidup Masyarakat Batak Toba. Berkala Arkeologi Sangkhakala, XIV(2), 266--286.

http://www.shivavishnutemple.org/templhal/shivalinga.htm




DOI: https://doi.org/10.24164/pw.v6i2.232

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2017 PURBAWIDYA: Journal of Archaeological Research and Development

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Index of Purbawidya :

   

Copyright of Purbawidya (e-ISSN 2528-3618 p-ISSN 2252-3758). Powered by OJS.

Designed by Irwan Setiawidjaya.

 

Creative Commons License
This work is licensed under a
Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License