JEJAK KEDATANGAN UTUSAN MAJAPAHIT DI PULAU AMBON

Muhammad Al Mujabuddawat

Abstract


Kakawin Nāgarakŗtāgama describes Majapahit's territory during its victorious day almost covering the current area of the Nusantara, including the Ambon Island in the region of the Maluku Islands. However, there are only small trace of physical evidence and literary data that can prove the existence of Majapahit influence in Ambon Island, or in other words, there is no absolute proof that can be accepted by academician. The people of Ambon Island who are illiterate have an oral tradition of telling the history. Ema village in Ambon Island has an oral tradition that tells the arrival of Majapahit. This study used oral tradition analysis method also by field observation to find related artefactual data and  supported by relevant literature review. Based on the results of oral tradition studies, it is known that the arrival of the delegates of Majapahit Kingdom in Ema Village is a real historical event occurred and supported by evidence of artefactual data found in the field. The results of this study became the first primary reference of historical events that occurred in the Ambon island after so long that the published literature earlier did not contain clear evidence of the interaction or the coming of the Majapahit Kingdom in Ambon Island. The result of this study is also sufficient to prove that Ambon Island is not the territory of Majapahit Kingdom.


Keywords


Majapahit, Ema Village, Ambon Island, oral tradition

Full Text:

PDF

References


Amal, M. A. (2010). Kepulauan Rempah-Rempah: Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).

Anton, & Marwati. (2015). Ungkapan Tradisional dalam Upacara Adat Perkawinan Masyarakat Bajo Pulau Bulu Kabupaten Muna Barat. Jurnal Humanika, 3(15), 1–11.

Anwari, I. R. M. (2015). Sistem Perekonomian Kerajaan Majapahit. VERLEDEN: Jurnal Kesejarahan, 3(2), 104–115.

BPS Kota Ambon. (2017). Kota Ambon dalam Angka. (C. H. Persulessy, Ed.). Ambon: BPS Kota Ambon.

Cœdès, G. (1968). The Indianized states of Southeast Asia. Honolulu: University of Hawaii Press.

Darman, F. (2017). Realitas Sejarah dalam Sastra Lisan Kapata Perang Kapahaha Desa Morella, Pulau Ambon. Kapata Arkeologi, 13(2), 131–140.

de Graaf, H. J. (1956). De Historische Betrouwbaarheid Der Javaanse Overlevering. Bijdragen Tot de Taal-, Land- En Volkenkunde, 112(1), 55–73.

Djafar, H. (2009). Masa Akhir Majapahit Girīndrawarddhana dan Masalahnya. Depok: Komunitas Bambu.

Duija, I. N. (2005). Tradisi Lisan, Naskah, dan Sejarah. Wacana, 7(2), 111–124.

Endraswara, S. (2013a). Folklor Nusantara. Yogyakarta: Ombak.

Endraswara, S. (2013b). Seksologi Jawa. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.

Handoko, W. (2007a). Aktifitas Perdagangan Lokal di Kepualuan Maluku Abad 15 M - 19 M, Tinjauan Awal Berdasarkan Data Keramik Asing dan Komoditas Lokal. Kapata Arkeologi, 3(4), 100–120.

Handoko, W. (2007b). Asal-Usul Masyarakat Maluku, Budaya dan Persebarannya: Kajian Arkeologi dan Mitologi. Kapata Arkeologi, 3(5), 1–27.

Handoko, W., & Mujabuddawat, M. Al. (2017). Situs Kampung Tua Kao: Identitas Asal Usul dan Jejak Peradaban Islam di Wilayah Pedalaman Halmahera Utara. Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, 2(2), 150–165.

Handoko, W., Mujabuddawat, M. Al, Huwae, A., Husni, M., Karolina, J., & Latupapua, S. (2016). Research report: Tanah Kao: Menguak Identitas Asal Usul Komunitas, Sejarah, dan Peradaban Islam di Halmahera Utara. Ambon: Balai Arkeologi Maluku.

Hasan, N. H. (2017). Nyanyian Adat Masyarakat Desa Longgar: Suatu Pendekatan Hermeneutika. Kapata Arkeologi, 13(1), 37–46.

Huliselan, M. (2012). Perdagangan Internasional: Pengaruhnya terhadap Perubahan Sistem Nilai Budaya Orang Maluku. Kapata Arkeologi, 8(1), 9–24.

Indradjaja, A. (2017). Penggambaran Ideal Perempuan Jawa pada Masa Hindu-Buddha: Refleksi pada Arca-arca Perempuan. PURBAWIDYA: Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Arkeologi, 6(2), 105–116.

Kartodirdjo, S. (1993). 700 Tahun Majapahit (1293-1993): Suatu Bunga Rampai. Surabaya: Dinas Pariwisata Daerah Jawa Timur.

Kutoyo, S., & Kartadarmadja, S. (1977). Sejarah Daerah Maluku. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Lapian, A. B. (2001). Ternate Sekitar Pertengahan Abad Ke-16. In M. J. Abdulrahman, et.al. (Ed.), Ternate: Bandar Jalur Sutera (pp. 39–54). Ternate: LinTas (Lembaga Informasi dan Transformasi Sosial).

Mahandis, T. Y. (2013). Nusantara Bukanlah Wilayah Majapahit?

Marsetio. (2013). Batas Wilayah dan Dinamika Penjagaan Batas Laut di Indonesia dalam Dimensi Sosiokultural. Humanika, 18(2), 1–12.

Moleong, L. J. (2010). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mujabuddawat, M. Al. (2016). Perangkat Sistem Informasi Geografis (SIG) dalam Penelitian dan Penyajian Informasi Arkeologi. Kapata Arkeologi, 12(1), 29.

Mulyana, S. (2005). Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit. Yogyakarta: PT LKiS Pelangi Aksara.

Mulyana, S. (2006). Tafsir Sejarah Nagara Kretagama. Yogyakarta: PT LKis Pelangi Aksara Yogyakarta.

Munandar, A. A. (2008). Ibukota Majapahit, Masa Jaya dan Pencapaian. Jakarta: Komunitas Bambu.

Paramita, W. D. (2016). Pendidikan Karakter dalam Lambang Surya Majapahit. Skripsi Universitas Negeri Yogyakarta.

Pattikayhatu, J. A. (2012). Bandar Niaga di Perairan Maluku dan Perdagangan Rempah-Rempah. Kapata Arkeologi, 8(1), 1–8.

Poesponegoro, Marwati, D., & Kartodirdjo, S. (2008). Sejarah Nasional Indonesia jilid II: Zaman Kuno. Jakarta: Balai Pustaka.

Rahardjo, S. (2001). Perempuan dan Kekuasaan dalam Dinamika Perempuan Nusantara. Jakarta: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.

Rahardjo, S. (2002). Peradaban Jawa: Dinamika Pranata Politik, Agama, dan Ekonomi Jawa Kuno. Jakarta: Komunitas Bambu.

Rahayu, A., & Susanti, N. (2018). Religious Communities in the Late Majapahit Period at Pasrujambe Site, Lumajang. In M. Budianta, M. Budiman, A. Kusno, & M. Moriyama (Eds.), Cultural Dynamics in A Globalized World (pp. 593–599). London: Taylor & Francis Group.

Reid, A. (2011). Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450—1680 Jilid 2 Jaringan Perdagangan Global. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Ririmasse, M. N. (2005). Jejak dan Prospek Penelitian Arkeologi di Maluku. Kapata Arkeologi, 1(1), 35–55.

Ririmasse, M. N. (2008). Perkembangan Kota Ambon Sebagai Implikasi Dinamika Ekonomi Politik Global dan Regional. Kapata Arkeologi, 4(6), 23–50.

Ririmasse, M. N. (2017). Sebelum Jalur Rempah: Awal Interaksi Niaga Lintas Batas di Maluku dalam Perspektif Arkeologi. Kapata Arkeologi, 13(1), 47.

Robson, S. (1995). Deṥawarṇana (Nȃgarakŗtȃgama) by Mpu Prapañca. Leiden: KITLV.

Sahusilawane, F. (1996). Laporan Penelitian Arkeologi Klasik, Kecamatan Kei Besar, Kabupaten Maluku Tenggara. Ambon.

Salhuteru, M. (2005). Menelusuri Keberadaan Budaya Hindu-Budha pada Masyarakat Maluku Tenggara. Kapata Arkeologi, 1(1), 88–97.

Sedyawati, E. (1996). Kedudukan Tradisi Lisan dalam Ilmu-ilmu Sosial dan Ilmu-Ilmu Budaya. Warta ATL, Jurnal Pengetahuan Dan Komunikasi Peneliti Dan Pemerhati Tradisi Lisan.

Setiawan, A., Sulistiawati, P., & Bastian, H. (2017). Tanda Visual Surya Majapahit dalam Relief Masjid sebagai Konsep Komunikasi Visual. Naditira Widya, 11(2), 111–124.

Shaw, I., & Jameson, R. (1999). A Dictionary of Archaeology. Oxford: Blackwell.

Susetyo, S. (2014). Pengaruh Peradaban Majapahit di Kabupaten Bima dan Dompu. Forum Arkeologi, 27(2), 121–134.

Susetyo, S. (2016). Pengaruh Majapahit pada Bangunan Puri Gede Kaba-Kaba, Tabanan. Amerta, 34(2), 139–152.

Tanudirjo, D. A. (2013). Interaksi Regional dan Cikal Bakal Perdagangan Internasional di Maluku. KALPATARU, Majalah Arkeologi, 22(1), 1–6.

Tehupuring, A. Y., Ang, C., Wattimena, E. D., & Nampasnea, J. M. (2008). Yang Unik Dari Negeri Ema. Kapata Arkeologi, Edisi Khus(Mei), 127–150.

Thompson, P. (2012). Suara dari Masa Silam Teori dan Metode Sejarah Lisan. Yogyakarta: Ombak.

Tjandrasasmita, U. (2009). Arkeologi Islam Nusantara. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).

Wahyudi, D. Y. (2013). Kerajaan Majapahit: Dinamika dalam Sejarah Nusantara. Sejarah Dan Budaya, 7(1), 88–95.

Wattimena, L. (2016a). Batu Teong di Pegunungan Kota Ambon, Kepulauan Ambon Lease. Kapata Arkeologi, 12(2), 213–220.

Wattimena, L. (2016b). Penelitian Arkeologi Prasejarah Kampung-kampung Tua di Pulau Ambon dan Lease, Propinsi Maluku. Ambon.

Winaya, A. (2015). Peran Museum Majapahit sebagai Mediator Pelestarian Warisan Budaya. Amerta, 33(2), 97–110.

Zuhdi, S. (2015). Sastra Daerah sebagai Sumber Rekonstruksi Sejarah. In A. D. Firman (Ed.), Prosiding Pemertahanan Bahasa Daerah dalam Bingkai Keberagaman di Sulawesi Tenggara (pp. 53–62). Kendari: Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara.




DOI: https://doi.org/10.24164/pw.v7i1.254

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2018 PURBAWIDYA: Journal of Archaeological Research and Development

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Index of Purbawidya :

   

Copyright of Purbawidya (e-ISSN 2528-3618 p-ISSN 2252-3758). Powered by OJS.

Designed by Irwan Setiawidjaya.

 

Creative Commons License
This work is licensed under a
Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License